belajar Rindu dari Rizki

Belajar Rindu dari Rizki

Rizki jangan pegang handphone bang Ayong ! terdengar suara lelaki yang memarahi adiknya. Tak lama kemudian ternyata bocah tersebut mengucap dengan nada sangat pelan bahwa ia merindukan ibunya, dan di dalam handphone bang Ayong terdapat video serta foto kuburan ibunya yang tengah disemayamkan. Rizki begitu dalam melihat video itu, padahal isi video itu adalah kuburan yang di pagar dan ditanami tumbuhan di sekitar nisan, akan tetapi jasad yang ada di dalam kuburan ini adalah ibu Rizky. Rizki adalah bocah berusia delapan tahun, ia hidup bersama dengan abang dan juga Pak Muknya. Sedangkan ayahnya saat ini pergi merantau ke kota Batam. Sehari-hari Rizki terlihat bahagia dan selalu bermain denganteman-temannya. Akan tetapi saat saya perhatikan lebih dekat, ternyata jika ia sedang melihat  ada seorang anak yang sedang bermanja dengan  ibunya, Rizki akan terlihat termenung walaupun sebentar. Sehari-hari saya dan Rizki tinggal bersama di komplek perumahan guru di lingkungan sekolah tempat saya mengajar, dan saya selalu bahagia ketika bertemu dengan anak terakhir dari lima bersaudara ini. Meskipun ia memiliki saudara kandung yang banyak ia hanya mau tinggal bersama dengan kakak keduanya yaitu bang Ayong.  Waktu itu pernah saya dan juga beberapa warga sekolah menjahilin Rizky dengan mengatakan bahwa “Bang Ayong Akan Segera Menikah Dan Akan Tinggal Bersama Istrinya Di Rumah Mertua”. Rizky sontak menjawab dengan kasar kalau ia akan tetap akan tinggal dan hidup bersama dengan bang Ayong dan ia tidak akan pernah mau berpisah dengan bang Ayong. Sejak saat itu saya baru menyadari bahwa cinta seorang anak kepada orang yang disayanginya memang benar-benar tulus dan tanpa kompromi… Subhanallah, saya belajar cinta dari anak kecil.

Sahabat Pembaca, saya banyak sekali belajar dari kehidupan bocah delapan tahun ini. Terkadang aku juga merasakan rindu yang mendalam kepada ibu saya ketika lama tak bersua. Seperti ada perasaan yang tak nyaman sebelum saya mendengarkan suara ibu meskipun hanya melalui telpon. Pernah Rizki membuat saya meneteskan air mata, saat ia mengatakan kerinduannya kepada ibunya dan memperlihatkan video kuburan ibunya kepada saya  ;

Rizki : “kak,, ini loh kuburan Mama Rizki”

Saya : …….. (diam seribu bahasa)

Aurelia : “Rizky jangan putar video itu lagi, aku jadi merinding dan sedih”

Ohya,,, Aurelia ini adalah anak yang baru berusia empat tahun tapi ia dapat begitu merasakan kesedihan yang mendalam ketika kita ditinggalkan oleh seorang ibu. Sesaat setelah mendengar dan melihat kuburan ibunya Rizki, saya mendadak merindukan ibu saya, saya begitu ingin segera memeluk ibu saya, ingin merasakan cintanya ibu saya, saya masih belum ikhlas jika harus kehilangan ibu saya meskipun saat ini saat ini saya telah berusia dewasa, hati saya pun terus menyebut doa “Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tua saya, dan panjangkanlah dan berkahirlah umur kedua orang tua saya Ya Allah, amiin ya Rabb”. Tak lama kemudian ba’da Maghrib saya pun menelpon ibu untuk menanyakan kabar dan menceritakan tentang pekerjaan saya selama beberapa bulan terakhir dan durasi menelpon ini pun memakan waktu satu jam lebih, tapi rasanya waktu satu jam masih belum cukup untuk menikmati waktu-waktu berdua dengan ibu saya meskipun via telpon, maklum anak lajang seperti saya masih single dan jomblo sehingga menghabiskan waktu dengan ibu dengan ngobrol via telpon masih menjadi pengobat rindu yang terampuh. Saya masih belum menemukan perempuan tambatan hati dalam ikatan pernikahan yang nantinya akan memiliki hati saya sepenuhnya, perempuan yang  akan saya kasihi seperti saya mencintai ibu saya. Ibu saya selalu menasehati saya bahwa suatu hari nanti anaknya akan menduakan rasa antara ibu dan istrinya, menduakan cinta antara ibu dan istrinya, tapi ibu ikhlas dan ridho asal rasa cinta dan kasih sayang anak lelakinya kepada istrinya kelak dapat membuat keluarga terbina Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah hingga ke Jannah.. saya selalu terharu dan meneteskan air mata jika ibu saya selalu mengucapkan hal ini meskipun hanya melalui pesawat telpon. Ibu saya adalah ibu terbaik, ibu saya adalah perempuan terhebat yang telah membesarkan saya dengan segala cinta dan sayang yang ibu saya punya. Bagi ibu saya, apa yang telah saya lakukan adalah hal yang membuatnya bahagia, sekecil apapun prestasi yang saya ukir baginya itu adalah perjuangan untuk meraih kesuksesan, ibu saya tak menuntut banyak hal, ibu hanya meminta “Nak,, jadilah anak yang sholeh dan mendoakan kedua orang tua mu dan terus melakukan kebaikan karena dengan begitu kita nanti bersua kembali di yaumil akhir dengan keadaan selamat”. Amiin yaa Rabb,,,,, sehat-sehat mama di kampung ya,, doakan anakmu yang merantau ini selamat dan sukses.

 

Suo-Suo 12-09-2017

Regard

 

Penjelajah Bersorban/ Ariandi Putra

penjelajah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *