Titisan Piriang

Titisan piriang

Budaya Indonesia sangat kaya dan khas, unik serta melegenda. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpukau dengan kemolekan budaya yang berbaur dengan tradisi. Ranah Minang, siapa yang tidak kenal dengan tanah basandi syara’, syara’ basandi kitabullah ini. Kekayaan budaya dan tradisi menjadi senjata ampuh dalam kemolekan pariwisatanya.

Di Minangkabau sendiri memiliki Sembilan tarian tradisional yang saat ini terus dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda , tujuannya agar tarian ini terus membudaya di kehidupan generasi milenial.

Titisan piriang bukanlah istilah khas dari minangkabau akan tetapi penulis sendiri yang memberikan judul dalam tulisan ini, karena menurut penulis  ada banyak sekali generasi muda di Ranah Minang yang mempelejari tarian ini karena memang selain menampilkan gerakan berseni tinggi dan molek, tari piriang juga dikategorikan sebagai tarian yang cukup ekstreem. Karena diakhir tarian sang penari akan menginjakkan kakinya dan meloncat-loncat di serpihan kaca yang sudah pecah, ajaibnya tak sedikitpun luka terlihat ketika sang penari menarikan gerakan ini.

Filosofi tari piriang sendiri adalah symbol rasa syukur terhadap hasil panen padi yang berlimpah ruah. Tak heran jika sang penari  tidak hanya menampilkan gerak tari yang apik, akan tetapi juga menambahkan senyum manis di masing-masing penari sebagai tanda suka cita terhadap arti sebuah rasa syukur, sungguh mempesona !

Ayu dan Junaidi adalah dua dari sekian banyak penari piriang yang saya kenal, keduanya memiliki latar belakang yang berbeda. Ayu merupakan puteri pertama dari tiga bersaudara merupakan gadis kental berdarah minang, ibunya berasal dari Pesisir Selatan sedangkan ayahnya berasal dari Padang. Sedangkan Junaidi bukanlah pemuda yang memiliki darah minang, tapi justru ia berasal dari Jambi dan berlatar belakang suku  Gayo Aceh akan tetapi ia sudah jatuh cinta terhadap Budaya Minangkabau saat ia pertama kali melihat tarian ini di Televisi. Masing-masing dari kedua penari ini aktif dalam mempromosikan kebudayaan tari Piriang diberbagai event, baik skala Nasional dan juga Internasional.  Uniknya dari mereka adalah tidak pernah berhenti menampilkan tarian piriang setiap minggu, padahal bukan berarti setiap mereka tampil akan mendapatkan fee justru mereka mempertontonkanya secara gratis dikegiatan acara pesta pernikahan atau dikegiatan kaula anak muda pecinta seni.

Awalnya mereka menampilkan diacara pernikahan dikediaman sesama  teman penari piriang, semisal minggu depan ayu akan menikah maka minggu depan para penari akan datang, kemudian mereka akan tampil secara gratis di depan Ayu dan suami yang saat itu menjadi raja dan ratu sehari serta menghibur penonton. Sama halnya dengan Junaidi meski tak berdarah minang, ia tetap membudayakan tarian Piriang di negeri kelahiranya di tanah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, tanpa harus dibayar. luar biasa ! alasan keduanya cukup mengesankan ; mereka ingin agar budaya terus tetap lestari dengan dibawakan oleh penari muda, karena biasanya yang muda lebih enerjik, kreatif dan rupawan. Sehingga dapat mencuri perhatian siapapun, terkhusus diakhir tarian piriang tersebut.

Keduanya mengakui bahwa untuk dapat menari tar piriang bukanlah hal yang mudah, butuh keseriusan, ketekunan dalam berlatih dan tentu saja rasa cinta dalam jiwa yang terus memberikan motivasi agar mereka dapat menari dengan baik. Apalagi pada tarian ini memiliki ritual khusus, agar kaki mereka tidak terluka pada saat menginjak kaca. Tarian piriang adalah satu dari berbagai tarian yang sangat ekstreem untuk dilakukan. Mungkin bagi penonton tarian ini cukup menawan dan mencuri perhatian akan tetapi sesungguhnya bagi sang penari saat akan mengakhiri tarian memiliki perasaan yang luar biasa. Karena puncak kesenian pada tari Piriang ini adalah saat penari menginjakkan kaki pada serpihan kaca.

Belajar Tari piriang bukanlah belajar disembarang guru atau sanggar tari. Sang guru harus lebih mahir dalam memberikan latihan dan juga ritual khusus agar sang murid dapat melakukan dengan baik. Mereka yang belajar tarian ini harus dimulai dari usia belia, dan pada saat usia mereka masih cukup productive. Tujuannya agar tubuh mereka lebih terlatih dan tidak sulit dalam menghafalkan dimasing-masing gerakan yang sudah diajarkan.

Siapapun bisa menarik piriang, tidak harus berasal dari Ranah Minang, mereka yang sudah mahir menarikan tarian piriang juga tidak selalu berasal dari keturuan keluarga seni justru mereka juga berasal dari latarbelakang keluarga yang berbeda. Siapapun bisa menarikan tarian ini, akan tetapi untuk bisa mahir dalam gerakan tari pIriang tentu tidak semua orang dapat melakukan kegiatan ekstreem. Untuk itu kekayaan budaya di kalangan milenial perlu untuk terus dipertahankan agar kekayaan Indonesia terus dapat terjaga dengan baik. Salam penjelajah bersorban !

penjelajah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *